BANDUNG,- Dalam rangkaian pelaksanaan kegiatan Pendampingan Akses Pembiayaan bagi UKM Tahun Anggaran 2024, Asdep Pembiayaan dan Investasi UKM, Deputi Bidang UKM, Kementerian Koperasi dan UKM akan menyelenggarakan Pitching to Funder di Wilayah Jawa Barat pada 5-6 Juni di  Mercure Bandung Nexa Supratman Jl. W.R Supratman No. 66 – 68, Bandung, Jawa Barat.

Hadir pada kesempatan ini Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, Rachmat Taufik Garsadi, Direktur Retail Banking BNI diwakili  Samuel Indra, Corporate Secretary BRI diwakili Kiki Andriyawan, SME Banking Group Bank Mandiri diwakili M. Fathir Akbar, Group Head SME BSI diwakili Vita Dwi Febriani, Kepala Divisi NIA, Trade & Financing LPEI diwakili  Hanif Pramadan, CEO PT. Urun Bangun Negeri diwakili  Ahmad Raafi, CEO PT. Shafiq Digital Indonesia diwakili  Arief Luqman Hakim  dan CEO DanaHub, Insan Gumilar.

Beberapa hal yang menjadi penyebab terbatasnya akses pembiayaan UMKM, diantaranya, kurangnya Aset sebagai Jaminan. Banyak UMKM yang tidak memiliki aset yang cukup untuk dijadikan jaminan dalam mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan. 

Bunga Tinggi, Suku bunga pinjaman untuk UMKM (non KUR) sering kali lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan besar karena dianggap memiliki risiko lebih tinggi. Minimnya Informasi, Banyak UMKM yang tidak mengetahui berbagai opsi pembiayaan yang tersedia, baik dari bank, lembaga keuangan non-bank, maupun pemerintah.

Selain itu, kurangnya edukasi mengenai manajemen keuangan dan perencanaan bisnis membuat UMKM kurang siap dalam mengelola dana yang diperoleh. Banyak UMKM kesulitan memenuhi persyaratan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan pinjaman, seperti laporan keuangan, proyeksi bisnis, dan dokumen legalitas.

Hal ini sejalan dengan data perkembangan rasio kredit UMKM yang tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data Statistik Sistem Keuangan Indonesia (SSKI) Bank Indonesia, rasio kredit UMKM terlihat relatif stagnan pada rasio 20-21 persen hal ini tidak berbanding lurus dengan besarnya jumlah UMKM di Indonesia yang sangat mendominasi struktur usaha di Indonesia.

Untuk itu, dalam rangka meningkatkan kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM serta mendukung peningkatan rasio kredit UMKM hingga 30 persen pada tahun 2024, maka dilakukan pendampingan akses pembiayaan UKM melalui program Bisnis Layak Funding “Bislaf”.

Dimana UKM akan dipersiapkan untuk memperbaiki fundamental bisnis, perencanaan pengembangan usaha hingga pembuatan proposal bisnis yang akan disampaikan kepada lembaga pembiayaan ataupun investor, sehingga nantinya UKM akan lebih siap dalam menghadapi lembaga pembiayaan dan mengelola pembiayaan yang didapat.

Melalui program ini, akan meningkatkan literasi dan edukasi kepada UKM mengenai berbagai opsi pembiayaan yang tersedia, prosedur pengajuan pinjaman, manajemen pembiayaan, serta risiko dan manfaatnya. Memberikan pendampingan kepada UKM untuk memperkuat dasar-dasar bisnis mereka, termasuk manajemen keuangan, operasional, dan strategi bisnis, guna meningkatkan daya tahan dan keberlanjutan usaha UKM.

Melatih UMKM dalam pembuatan proposal bisnis yang menarik dan profesional untuk disampaikan kepada lembaga pembiayaan dan investor, sehingga meningkatkan peluang mereka untuk mendapatkan pendanaan yang dibutuhkan. Meningkatkan kemudahan akses pembiayaan UKM, sehingga UKM lebih mudah mendapatkan akses ke sumber pembiayaan yang tepat dan diperlukan untuk pengembangan usahanya.

Beberapa rangkaian kegiatan pendampingan akses pembiayaan UKM melalui program Bislaf yang sudah dilaksanakan, diantaranya: 1. Bangun Bisnis Layak Funding ○ Seminar Funding ○ Sosialisasi Pembiayaan ○ Pitching Demo 2. Kurasi Peserta Program Tahapan kurasi dalam program Bislaf adalah proses seleksi peserta yang berhak mengikuti program pendampingan Bislaf berdasarkan penilaian berbagai aspek. 3. Business & Funding Advisory ○ Advisory Basic ○ Advisory Advance Puncak dari Program Bislaf: Pitching to Funder.

Pitching day merupakan kegiatan puncak dalam program Bisnis Layak Funding "BISLAF" dimana para peserta akan mempresentasikan profil bisnis mereka, rencana pengembangan, serta kebutuhan pembiayaannya di hadapan lembaga pembiayaan dan investor. Pada acara ini, setiap peserta diberikan kesempatan untuk menunjukkan potensi dan daya tarik usahanya dengan tujuan menarik minat dan dukungan finansial dari para pendana. (ade*)

Foto : Nurwanto Ambari