Bandung- Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (DKUK) Provinsi Jawa Barat menggelar Webinar Pengembangan Usaha Koperasi dengan tema “Transformasi dan Penguatan Usaha Koperasi melalui Model Holding dan Inovasi Bisnis” menghadirkan narasumber ketua sekaligus pendiri dari Holding Koperasi BMT NU Ngasem (KSPPS BMT Nurul Ummah Ngasem) Bojonegoro H. Mohammad Wahyudi dan Ilham Nasai, Ketua Lembaga Studi Pengembangan Perkoperasian Indonesia (LSP2I) atau Pengamat Perkoperasian/Pegiat Koperasi, pada Selasa (19/5).

            Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi DKUK Jabar, H. Supriyadi mewakili Kepala DKUK Jabar mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah penguatan kapasitas kelembagaan dan pengembangan strategi usaha koperasi. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, pelaku koperasi, serta narasumber yang kompeten di bidang pengembangan usaha dan transformasi koperasi.

Menurutnya,  transformasi koperasi sangat penting,  agar koperasi mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, perubahan pasar, dan tantangan ekonomi yang semakin dinamis. Salah satu strategi yang didorong adalah penerapan model holding koperasi sebagai bentuk penguatan sinergi usaha antar koperasi maupun unit usaha di dalam koperasi.

“Model ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha, memperkuat akses pembiayaan, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan skala ekonomi koperasi secara lebih terintegrasi,” katanya.

Melalui kegiatan ini diharapkan koperasi mampu melakukan transformasi secara menyeluruh, baik dari sisi manajemen, tata kelola, maupun pengembangan usaha. Dengan adanya penguatan usaha melalui model holding dan inovasi bisnis, koperasi diharapkan semakin mandiri, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan anggota dan memperkuat perekonomian daerah maupun nasional.

Sementara Ilham Nasai mengatakan, transformasi koperasi melalui inovasi teknologi merupakan langkah penting agar koperasi mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekonomi digital yang semakin cepat.

Pemanfaatan teknologi dinilai dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan usaha, mempercepat pelayanan kepada anggota, memperluas akses pasar, serta memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola koperasi. Transformasi digital juga membuka peluang bagi koperasi untuk menghadirkan layanan yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.

Ia juga menekankan, inovasi teknologi tidak hanya sebatas penggunaan aplikasi digital, tetapi mencakup perubahan pola pikir, budaya kerja, dan model bisnis koperasi agar lebih adaptif dan kompetitif.

“Dengan dukungan teknologi, koperasi dapat mengembangkan sistem pembayaran digital, marketplace produk anggota, layanan keuangan berbasis digital, hingga pengelolaan data usaha yang lebih terintegrasi. Melalui transformasi tersebut, koperasi diharapkan mampu menjadi kekuatan ekonomi rakyat yang modern, profesional, dan berkelanjutan”, katanya.

Sementara H. Moh Wahyudi menceritakan pengalaman strategi yang dilakukan oleh beliau dalam menjadikan holding koperasinya. Beliau berhasil membuat Koperasi BMT NU berhasil bertransformasi dari sebuah unit kecil menjadi Holding Koperasi modern pertama di Indonesia yang mengelola puluhan unit bisnis lintas sektor secara profesional.

Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Nurul Ummah (NU) Ngasem didirikan pada pertengahan tahun 2012–2013 atas inisiasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Ngasem. Pada awal pendiriannya, koperasi ini beranggota 67 orang dikelola dengan modal awal sekitar Rp67 juta.

Sejak awal, H. Moh. Wahyudi menekankan prinsip bahwa kerja keras mengembangkan koperasi harus diniatkan sebagai ibadah untuk kemandirian ekonomi umat. Wahyudi menegaskan,  tata kelola yang profesional adalah kunci utama untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat luas. Wahyudi memiliki idealisme yang tinggi terhadap masa depan koperasi Indonesia. Beliau sering menyampaikan keprihatinannya bahwa koperasi kerap dipandang sebagai pelaku usaha pinggiran yang memperebutkan "remahan rezeki".

Terinspirasi dari kesuksesan koperasi-koperasi skala raksasa di Amerika Serikat dan Eropa, ia ingin membuktikan bahwa koperasi di Indonesia juga bisa menjadi bagian penting dalam arus utama perekonomian nasional.

Milestone terbesar dari visi ini terwujud saat diresmikannya gedung pusat Holding Koperasi BMT NU Ngasem Group setinggi 5 lantai di Bojonegoro pada Februari 2025. Wahyudi membawa koperasi tidak hanya berkutat pada sektor simpan pinjam syariah, melainkan melebar ke sistem konglomerasi bisnis yang sangat produktif.

Dalam struktur holding tersebut, BMT NU Ngasem Group berhasil mengelola puluhan unit usaha elit, di antaranya: Retail modern (Swalayan BMT), Unit kuliner (food court) dan barbershop. Sektor logistik dan kebutuhan harian seperti Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) bermerek NU Berkah. Layanan jasa medis (pusat kesehatan) serta agen perjalanan (tour & travel).

Wahyudi juga melakukan inovasi digital. Beliau mengintegrasikan ekosistem operasionalnya dengan teknologi terkini demi kemudahan pelayanan. BMT NU Ngasem Group sukses meluncurkan Aplikasi BMT NU NGASEM Mobile Anggota. Layanan ATM 24 jam khusus anggota. Jaringan sekitar 400 POS Agen yang tersebar luas untuk memudahkan transaksi keuangan mikro di masyarakat bawah.

            Berkat tangan dinginnya memimpin transformasi ini, aset koperasi melonjak tajam dari puluhan juta hingga menembus angka ratusan miliar rupiah, melayani lebih dari 80.000 anggota melalui puluhan kantor cabang di berbagai kabupaten (Bojonegoro, Tuban, Lamongan, hingga Ngawi). (ade)