Bandung- Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat menggelar Fasilitasi Uji Kelayakan dan Kepatutan bagi Pengurus dan Pengawas Koperasi, yang diikuti 50 peserta koperasi tingkat provinsi Jawa Barat, di Aula Bung Hatta Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, pada Rabu (13/5).
Acara dibuka Plh Kepala DisKUK Jabar, Ambar Triwidodo menghadirkan narasumber dari Kementerian Koperasi RI, Ikopin University dan KSPPS BMT Ibadurahman Kota Sukabumi.
Kepala Bidang Kelembagaan dan Pengawasan Koperasi, Dinas KUK Jabar, Daniar Ahmad Nurdianto dalam laporannya mengatakan, fasilitasi uji kelayakan dan kepatutan ini untuk memberikan penguatan pemahaman dan penilaian terhadap kompetensi, integritas, serta komitmen pengurus dan pengawas koperasi dalam melaksanakan tata kelola kelembagaan dan kegiatan usaha koperasi secara sehat, akuntabel, dan profesional.
Sementara Plh Kepala DisKUK Jabar menegaskan, semua yang hadir hari ini adalah bagian dari gerakan koperasi. Koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi merupakan wadah pemberdayaan ekonomi kerakyatan sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa. Keberadaan koperasi semakin hari semakin ditinggalkan.
“Generasi muda banyak yang tidak mengenal koperasi itu apa? Tantangan koperasi saat ini tidak sedikit. Mulai dari akses permodalan, pengembangan usaha yang belum adaptif terhadap perkembangan zaman, hingga keberlanjutan usaha koperasi itu sendiri. Banyak koperasi tumbuh, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti beroperasi. Untuk itu, kita perlu mendorong generasi muda paham dan menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian,” paparnya.
Ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu kualitas sumber daya manusia. SDM pengelola koperasi menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan koperasi. Oleh sebab itu, kegiatan hari ini menjadi penting sebagai bagian dari pembinaan dan penguatan kapasitas pengurus serta pengawas koperasi.
Ambar juga mengatakan, keberadaan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil jangan sampai melupakan landasan utamanya, yaitu koperasi. Selama ini perhatian terhadap UMKM memang sangat besar, namun kita juga harus memastikan koperasi tetap menjadi prioritas pembinaan. Sebab koperasi adalah sokoguru perekonomian Indonesia. Jika koperasi kuat, maka ekonomi masyarakat pun akan semakin kokoh.
“Melihat perkembangan saat ini, kami di Dinas KUK Jabar berkeinginan mengembalikan peran koperasi, bukan hanya sebagai unit usaha, tetapi sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi rakyat. Koperasi harus menjadi tempat berkumpulnya kekuatan ekonomi masyarakat yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan Bersama,” jelasnya.
Persoalan terbesar koperasi sesungguhnya adalah kepercayaan. Kepercayaan masyarakat tidak bisa dibangun hanya dengan slogan, tetapi melalui integritas dan kinerja nyata. Bagaimana anggota akan percaya apabila pengurusnya sendiri tidak solid? Karena itu, kekompakan, integritas, dan rasa memiliki terhadap koperasi menjadi kunci utama keberlanjutan koperasi.
“Kami tidak hadir untuk menguji apakah Bapak/Ibu mampu atau tidak. Kami yakin Bapak/Ibu sudah memiliki kemampuan. Yang ingin kami pastikan adalah bagaimana ke depan pengelolaan koperasi dilakukan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan semangat pengabdian,” ungkapnya.
Ia berharap, Bapak/Ibu tidak hanya lulus secara administratif atau mendapatkan sertifikat semata, tetapi benar-benar mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam pengelolaan koperasi. (ade)