Bandung – Komunitas Bandung Preneur Squad (BPS) terus membangun ekosistem kolaborasi untuk memperkuat kapasitas dan memperluas akses pasar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Bandung.

Hal itu disampaikan Ketua BPS, Hani, dalam wawancara pada Jumat (24/7/2026). Komunitas yang beranggotakan sekitar 400 pelaku usaha tersebut menghimpun UMKM dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, kriya, fesyen, hingga 17 subsektor lainnya.

Hani mengatakan, BPS berawal dari komunitas yang dibangun pada 2020 dengan cakupan wilayah yang masih terbatas. Namun, sejak Januari 2026, komunitas tersebut mulai memperluas jangkauan agar dapat memfasilitasi lebih banyak pelaku usaha.

“Sebenarnya saya punya komunitas sudah dari 2020, cuma terbatas dengan wilayah. Nah, baru 2026 Januari kemarin saya pikir kayaknya harus go public deh ini biar banyak yang terfasilitasi,” ujar Hani.

Seiring dengan perluasan tersebut, komunitas itu kemudian menggunakan nama Bandung Preneur Squad dan membuka keanggotaan bagi pelaku UMKM dari 30 kecamatan di Kota Bandung. BPS juga mulai memperluas jangkauannya ke sejumlah wilayah kabupaten.

Menurut Hani, kemitraan menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan komunitas. BPS tidak hanya menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk berjejaring, tetapi juga berupaya menjembatani UMKM dengan berbagai peluang pemasaran dan mitra strategis.

“Di sini tuh wadahnya. Ada start-up, middle-up, sama level-up. Yang start-up inilah yang belum tersentuh dengan pendampingan mana pun. Yang middle-up itu yang sudah didampingi, tapi mereka bingung ‘habis gitu saya ngapain?’ Nah, di sini kita bukain akses pemasarannya, kita jembatani untuk bisa bermitra,” jelasnya.

Upaya membangun kapasitas anggota juga dilakukan melalui berbagai kegiatan. Salah satunya Company Profile Competition, yang dirancang untuk melatih pelaku UMKM dalam memperkenalkan profil dan potensi usahanya kepada calon mitra maupun pasar yang lebih luas.

“Kemarin ini kita habis melaksanakan kegiatan Company Profile Competition. Tujuannya bikin kompetisi itu mendidik mereka untuk bisa memperkenalkan profil usahanya. Pada saat mereka ketemu sama siapa pun itu, mereka bisa mempresentasikan,” kata Hani.

Dalam penyelenggaraan kegiatan, BPS juga berupaya membangun kemandirian komunitas melalui penggalangan dukungan dan kemitraan dengan berbagai pihak.

“Kita benar-benar anggaran tuh sendiri, kita yang mencari sponsor tuh sendiri,” ujarnya.

Hani menegaskan, kolaborasi menjadi fondasi utama dalam pengembangan BPS. Ia mendorong terbangunnya kemitraan pentahelix yang melibatkan pemerintah, BUMN, sektor swasta, dan komunitas.

“Kita menitikberatkannya sesuai dengan tagline kita tuh kolaborasi. Kolaborasi pentahelix. Sama pemerintah, BUMN, termasuk swasta,” tuturnya.

Menurutnya, kemitraan tersebut perlu dibangun dengan prinsip saling membutuhkan dan memberikan manfaat bagi setiap pihak yang terlibat.

“Memang simbiosis mutualisme. Dari kita memang memerlukan program-program yang pemerintah punya, pun pemerintah juga butuh kita sebagai pesertanya,” kata Hani.

Hani sendiri merupakan alumni program UMKM Naik Kelas yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan pengembangan kapasitasnya sebagai pelaku usaha sekaligus penggerak komunitas.

Melalui jejaring yang kini beranggotakan sekitar 400 pelaku UMKM, BPS berupaya membangun jembatan antara pelaku usaha dengan berbagai sumber daya, mulai dari pendampingan, akses pasar, hingga peluang kemitraan. Kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat membantu UMKM tumbuh secara berkelanjutan dan naik kelas bersama.